PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PSIKOLOGI
Banyak
pengertian psikologi yang dikemukan para ahli yang masing-masing menekankan
pada susdut pandangan sendiri-sendiri mana yang dianggap penting. Perbedaan ini
mungkin disebabkan metode yang digunakan maupun pendekatan permasalahannya.
A.Pengertian psikologi Menurut para ahli
1. Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche =
jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara
langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada
manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku
dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai
ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental
2, Crow & Crow
Pschycology is the study of human behavior and human relationship.
(Psikologi ialah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik berupa manusia lain (human relationship) maupun bukan manusia: hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya
Sartain
Psychology is the scientific study of the behavior of living organism, with especial attention given to human behavior. (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia)
Psychology is the scientific study of the behavior of living organism, with especial attention given to human behavior. (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku organisme yang hidup, terutama tingkah laku manusia)
Bruno (1987)
Pengertian Psikologi dibagi dalam tiga bagian,
yaitu: Pertama, psikologi adalah studi (penyelidikan) mengenai “ruh”. Kedua,
psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidup mental”. Ketiga, psikologi
adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.
Chaplin (1972) dalam Dictionary of psychology
Psikologi ialah ilmu pengetahuan mengenai perilaku manusia dan hewan
Ensiklopedia Pendidikan, Poerbakawatja dan Harahap
(1981)
Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan – kegiatan jiwa
Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan – kegiatan jiwa
Richard Mayer (1981)
Psikologi merupakan analisi mengenai proses mental
dan struktur daya ingat untuk memahami perilaku manusia
James,W. (dlm Harriman,P.L.,1963 ,Handbook of Psychological Terms):
“the science of mental life, both of its phenomena, and of their condition”
Crooks,R.L., Stein,J. , 1988,(dlm Psychology. Science,Behavior and Life) : “the scientific study of the behavior and mental processes of humans and other animals”.
Wortman,C.,Loftus,E.,Weaver,Ch.,2004 (dlm Psychology. 5th.ed) : “the scientific study of behavior, both external observable action and internal thought”.
Westen, Drew, 1959 (dalam buku Psychology : mind, brain & culture) : ”The scientific investigation of mental processes and behavior.
Ruang lingkup psikologi pendidikan menurut Good
& Broopy ( 1997 )
1. Psikologi perkembangan
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan
faktor-faktor yang membentuk prilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia. Psikologi perkembangan berkaitan erat
dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam
konteks adanya interaksi sosial. Dan juga berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu
tersebut
2. Psikologi sosial
Bidang ini mempunyai 3 ruang lingkup, yaitu :
·
studi
tentang pengaruh sosial
terhadap proses individu, misalnya : studi tentang persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat)
·
studi tentang proses-proses
individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan
lain-lain
·
studi
tentang interaksi kelompok, misalnya kepemimpinan, komunikasi
hubungan kekuasaan, kerjasama dalam kelompok, dan persaingan.
3. Psikologi kepribadian
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, psikologi kepribadian berkaitan erat dengan psikologi
perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak
masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial
dengan lingkungannya.
4. Psikologi kognitif
Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari kemampuan kognisi, seperti: Persepsi,
proses belajar, kemampuan memori, atensi, kemampuan bahasa dan emosi.
Wilayah terapan psikologi adalah wilayah-wilayah
dimana kajian psikologi dapat diterapkan. walaupun
demikian, belum terbiasanya orang-orang Indonesia
dengan spesialisasi membuat wilayah terapan ini rancu, misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mungkin saja bekerja pada HRD sebuah perusahaan,
atau sebaliknya.
1. Psikologi sekolah
Psikologi sekolah berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak
didik dalam mengembangkan kemampuan akademik,
sosialisasi, dan emosi. Yang bertujuan untuk membentuk mind set anak
2. Psikologi industri dan organisasi
Psikologi industri memfokuskan pada menggembangan, mengevaluasi dan memprediksi kinerja suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh individu,
sedangkan psikologi organisasi mempelajari bagaimana suatu organisasi
memengaruhi dan berinteraksi dengan anggota-anggotanya
3. Psikologi kerekayasaan
Penerapan psikologi yang berkaitan dengan interaksi
antara manusia dan mesin untuk
meminimalisasikan kesalahan manusia ketika berhubungan dengan mesin (human
error)
4. Psikologi klinis
Adalah bidang studi psikologi dan juga penerapan psikologi dalam memahami,
mencegah dan memulihkan keadaan psikologis individu ke ambang normal.
Adapun menurut Sumadi Suryobroto ( 1984 ) juga mengatakan
bahwa yang menjadi ruang lingkup psikologi pendidikan meliputi :
- Pengetahuan tentang psikologi pendidikan : pengertian ruang lingkup, tujuan mempelajari dan sejarah munculnya psikologi pendidikan
- Pembawaaan
- Lingkungan fisik dan psikologis
- Perkembangan siswa
- Proses – proses tingkah laku
- Hakekat dan ruang lingkup belajar
- Faktor yang mempengaruhi belajar
- Hukum dan teori belajar
- Pengukuran pendidikan
- Aspek praktis pengukuran pendidikan
- Transfer belajar
- Ilmu statistik dasar
- Kesehatan mental
- Pendidikan membentuk watak / kepribadian
- Kurikulum pendidikan sekolah dasar
Kurikulum pendidikan sekolah menengah
Pertemuan
ke 2
- Definisi Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati (Chaplin C.P.,1989:134). Sedangakan Hurlock E.B. (1978:23) menyatakan bahwa “Perkembangan dapat didefinisikan sebagai deretanm progresif dari perubahan yang teratur dan koheren “.”Progresif “ menandai bahwa perubahannya terarah, membimbing mereka maju, dan bukan mundur. “Teratur” dan “ koheren” menunjukan hubungan yang nyata antara perubahan yang terjadi dan telah mendahului atau mengikutinya.
Ini berarti bahwa perkembangan juga berhubungan dengan proses belajar terutama mengenai isinya yaitu tentang apa yang akan berkembang berkaitan dengan perbuatan belajar. Disamping nitu juga bagaimana suatu hal itu dipelajari, apakah melalui memorisasi (menghafal) atau melalui peniruan dan atau dengan menangkap hubungan-hubungan, hal-hal ini semuaikut menentukan proses perkermbangan.
Dapat pula dapat dikatakan bahwa perkembangan sebagai suatu proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi terjadi berdasarkan proses pertumbuhan, kemasakan, dan belajar.
2. Prinsip-prinsip Perkembangan
Carol Getswicki( 1995) mengemukakan beberapa prinsip dasar perkembangan.
1. Dalam perkembangan terdapat urutan yanng diramalkan pemahaman tentang perilaku yag seharusnya terjadi berikutnya, akan membantu para praktis untuk mengenal perkembangan yang khusus dan menantang fase berikutya yang semestinya.
2. Perkembangan pada suatu tahap merupakan landasan bagi perkembangan berikutnya. Suatu perkembangan tidak akan mungkin terjadi berkesinambungan dengan baik bila anank didorong untuk melampaui atau secara tergesa-gesa menjalani tahap-tahap awal. Anak harus diberi waktu yang sesuai dengan yang mereks butuhkan sebelum berlanjut pada tahap berikutnya.
3. Dalam perkembangan terdapat waktu-waktu yang optimal . waktu-waktu yang menunjukan kesiapan harus dikenai melalui pengamatan yang cermat . proses belajar akan terjadi dengan sangat mudah pada saat yang optimal. Setiap pengajaran tidak akan menjadikan proses belajar dengan mudah sebelum mencapai kepuasan.
4. Perkembangan merupakan hasil interaksi faktor-faktor biologis (kematangan) dan faktor-faktor lingkungan (belajsr). Kematangan merupakan prasyarat munculnya kesiapan untuk belajar . lingkungan menentukan arah perkembangan.
5. Perkembangan maju berkelanjutan merupakan kesatuan yang saling emosional , sosial berhubungan , dengan semua aspek-aspek(fisik,kognitif, emosional,sosial) yang saling mempengaruhi.
atau
1. Perkembangan Melibatkan Perubahan
Tujuan perubahan perkembangan, menurut Maslow adalah “aktualisasi diri” , yaitu upaya untuk menjadi orang terbaik secara fisik dan mental. Agar merasa bahagia dan puas orang harus diberi kesempatan untuk memenuhi dorongan tersebut.
2. Perkembangan Awal Lebih Kritis daripada Perkembangan Selanjutnya, Karena dasar awal sangat dipenaruhi oleh proses belajar dan pengalaman.
3. Perkembangan Merupakan Hasil Proses Kematangan dan Belajar
Berbagaoi bukti menunjukkan, bahwa ciri perkembangan fisik dan mental sebagian berasal dari proses kematangan intrinsik dan sebagian berasal dari latihan dan usaha individu.
4. Pola Perkembangan Dapat Diramalkan, walaupun pola yang dapat diramalkan ini dapat diperlambat atau dipercepat oleh kondisi awal pada masa pralahir dan pasca lahir.
5. Pola Perkembangan Mempunyai Karakteristik yang Dapat Diramalkan
Yang penting di antaranya adalah adanya persamaan pola perkembangan bagi semuaanak: perkembangan berlangsung dari tanggapan yang umum ke tanggapan yang spesifik; perkembangan terjadi secara berkesinambung; berbagai bidang berkembang dengan kecepatan yang berbeda;dan terdapat korelasidalam berkembang.
6. Terdapat Perbedaan Individ Dalam Berkembang, yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku bagi perkembangan fisik maupun psikologi.
7. Terdapat periode perkembangan, yang disebut periode pralahir, masas noenatus, masa bayi, masa kanak-kanak awal, akhir masa kanak-kanak, dan masa puber.
8. Adanpan Harapan Sosial Untuk Setiap Periode Perkembangan. Harapan sosial ini berbentuk tugas perkembangan yanmg memungkinan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa usia anak-anak mampu menguasai berbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.
9. Setiap Bidang Perkembangan Mengandung Bahaya yang Potensial, baik fisik maupun psikologi yang dapat mengubah pola perkembangan.
10. Kebahagian Bervariasi pada Berbagai Periode dalam Pola Perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasasnya yang paling bahagia dan masa puber biasanya yang palingn tidak bahagia.
TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MANUSIA
Masa bayi dan awal masa kanak-kanak
1. Belajar memakan makanan padat
2. Belajar berjalan
3. Belajar berbicara
4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
5. Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
6. Mempersiapkan diri untuk membaca
7. Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani
Akhir masa kanak-kanak
1. Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan umum.
2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
5. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis, berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai.
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi
2. Belajar berjalan
3. Belajar berbicara
4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
5. Mempelajari perbedaan seks dan tata caranya
6. Mempersiapkan diri untuk membaca
7. Belajar membedakan benar dan salah, dan mulai mengembangkan hati nurani
Akhir masa kanak-kanak
1. Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan umum.
2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh
3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya
4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat
5. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis, berhitung
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari
7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai.
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga
9. Mencapai kebebasan pribadi
2. Masa Remaja
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
2. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
5. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya
6. Mempersiapkan karir ekonomi
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku-mengembangkan ideologi
1. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita
2. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
4. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
5. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya
6. Mempersiapkan karir ekonomi
7. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
8. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku-mengembangkan ideologi
Awal
Masa Dewasa
1. Mulai bekrja
2. Memilih pasangan
3. Belajar hidup dengan tunangan
4. Mulai membina keluarga
5. Mengasuh anak
6. Mengelola rumah tangga
7. Mengambil tanggung jawab sebagai waga negara
8. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan
Masa Usia Pertengahan
1. Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara
2. Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang beranggung jawab dan bahagia
3. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
4. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan -perubahan fisiologis terjadi pada tahap ini
6. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
7. Menyesuaikan diri dengan orangtua yang semakin tua
1. Mulai bekrja
2. Memilih pasangan
3. Belajar hidup dengan tunangan
4. Mulai membina keluarga
5. Mengasuh anak
6. Mengelola rumah tangga
7. Mengambil tanggung jawab sebagai waga negara
8. Mencari kelompok sosial yang menyenangkan
Masa Usia Pertengahan
1. Mencapai tanggung jawab sosial dan dewasa sebagai warga negara
2. Membantu anak-anak remaja belajar untuk menjadi orang dewasa yang beranggung jawab dan bahagia
3. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang untuk orang dewasa
4. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai suatu individu
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan -perubahan fisiologis terjadi pada tahap ini
6. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier pekerjaan
7. Menyesuaikan diri dengan orangtua yang semakin tua
Masa Tua
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan menurunnya penghasilan keluarga
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan menurunnya penghasilan keluarga
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup
4. Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes
Dengan
mengetahui secara garis besar tugas-tugas perkembangan di atas, kita dapat
menyusun program-program pembelajaran non formal untuk membantu mengasah
ketrampilan dan bakat individu sehingga tugas-tugas perkembangannya dapat
dikuasai dan diselesaikan tepat waktu.
Sejak tahap perkembangan masa bayi, individu dapat diberikan pendidikan non formal sesuai dengan kebutuhannya untuk membantu menguasai tugas-tugas perkembangan.
Penting juga diketahui bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk menguasai dan menyelesaikannya. Faktor-faktor tersebut:
Faktor Penghalang
1. Tingkat Perkembangan yang mundur
2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya
3. Tidak ada motivasi
4. Kesehatan yang buruk
5. Cacat tubuh
6. Tingkat keerdasan yang rendah
Faktor yang membantu
1. Tingkat perkembangan yang normal
2. Kesematan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
3. Motivasi
4. Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
5. Tingkat kecerdasan yang tinggi
6. Kreativitas
Terlepas dari berapa panjang rentang kehidupan seseorang, ukuran kronologis atau usia adalah kriteria pokok untuk menentukan tahap-tahap perkembangan individu. Pembagian ukuran kronologis ini:
1. Periode Pranatal; masa sebelum kelahiran
2. Bayi; kelahiran sampai minggu kedua
3. Masa bayi; akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua
4. Awal masa kanak-kanak; dua sampai enam tahun
5. Akhir masa kanak-kanak; enam sampai sepuluh atau dua belas tahun
6. Masa pubertas; sepuluh atau dua belas sampai tiga belas atau empat belas tahun
7. Masa remaja; tiga belas atau empat belas sampai delapan belas tahun
8. Awal masa dewasa; delapan belas sampai empat puluh tahun
9. Usia pertengahan; empat puluh sampai enam puluh tahun
10. Masa tua atau usia lanjut; enam puluh tahun sampai meninggal
Sejak tahap perkembangan masa bayi, individu dapat diberikan pendidikan non formal sesuai dengan kebutuhannya untuk membantu menguasai tugas-tugas perkembangan.
Penting juga diketahui bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi individu untuk menguasai dan menyelesaikannya. Faktor-faktor tersebut:
Faktor Penghalang
1. Tingkat Perkembangan yang mundur
2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya
3. Tidak ada motivasi
4. Kesehatan yang buruk
5. Cacat tubuh
6. Tingkat keerdasan yang rendah
Faktor yang membantu
1. Tingkat perkembangan yang normal
2. Kesematan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
3. Motivasi
4. Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
5. Tingkat kecerdasan yang tinggi
6. Kreativitas
Terlepas dari berapa panjang rentang kehidupan seseorang, ukuran kronologis atau usia adalah kriteria pokok untuk menentukan tahap-tahap perkembangan individu. Pembagian ukuran kronologis ini:
1. Periode Pranatal; masa sebelum kelahiran
2. Bayi; kelahiran sampai minggu kedua
3. Masa bayi; akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua
4. Awal masa kanak-kanak; dua sampai enam tahun
5. Akhir masa kanak-kanak; enam sampai sepuluh atau dua belas tahun
6. Masa pubertas; sepuluh atau dua belas sampai tiga belas atau empat belas tahun
7. Masa remaja; tiga belas atau empat belas sampai delapan belas tahun
8. Awal masa dewasa; delapan belas sampai empat puluh tahun
9. Usia pertengahan; empat puluh sampai enam puluh tahun
10. Masa tua atau usia lanjut; enam puluh tahun sampai meninggal
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan non formal dapat
diberikan kepada seseorang sepanjang rentang kehidupannya. Banyak yang bisa
diberikan kepada individu untuk membantunya menguasai dan menyelesaikan
tugas-tugas perkembangan, sesuai dengan kebutuhannya pada suatu tahap
perkembangan. Misalnya pada akhir masa kanak-kanak, memberikan ketrampilan
dasar untuk mengembangkan peran sosial pria atau wanita dengan tepat dapat kita
lakukan dengan memberikan pelatihan kecerdasan emosi untuk mengasah rasa empati
atau kepekaan sosial.
Soal
Pembawaan dan lingkungan merupakan soal yang sangat penting dalam psikologi dan
erathubungannya dengan ilmu mendidik.Bertahun-tahun lamanya para ahli didik,
ahli biologi, ahli psikologi dan lain-lain memikirkan dan berusahamencari
jawaban atas pertanyaan: perkembangan manusia itu kepada pembawaan ataukah
kepadalingkungan? Atau dengan kata lain: dalam perkembangan anak muda hingga
menjadi dewasa faktor-faktoryang menentukan itu, faktor yang dibawa dari
keturunan (pembawaan) ataukah pengaruh-pengaruhlingkungan?
Dalam usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut perlu dikemukakaadanya bebarapa pendapat:
a. Airan
Nativisme
Aliran ini
berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh
faktor-faktoryang dibawa sejak lahir. Pembawaan yang telah terdapat pada waktu
dilahirkan itulah yang menetukan hasil
perkembangannya. Menurut Nativisme,
pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. (Purwanto, M.Ngalim,
1990: 14)
b. Aliran
Empirisme
Aliran ini
mempunyai pendapat yang beralawanan dengan kaum nativisme. Meraka berpendapat
bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan
oleh lingkungannya atau sejak pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak
kecil. Manusia-manusia dapat didik menjadi apa saja (ke arah yang baik maupun
ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau empiris ibi didiknya.
Dalam pendidikan, terdapat kaum empiris ini terkenal dengan nama Optimisme
paedagogis. Kaum behavioris pun sependapat dengan kaum empiris itu. Watson
seorang behaviouris (Amerika): “Berikan saya sejumlah anak-anak yang keadaan
badannya dan situasi-situasi yang saya butuhkan: dari setiap orang anak, entah
yang mana, dapat saya jadikan dokter, seorang padagang, seorang ahli hukum,
atau memang jika dikehendaki seorang pengemis atau seorang pencuri”. (Purwanto,
M. Ngalim, 1990: 14)
c. Aliran
Konvergensi
Aliran ini berasal dari
ahli psikologi bangsa Jerman bernama William Stern. Ia berpendapat bahwa
pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkembangan manusia. Terdapat
dua aliran yang menganut konvergensi, yaitu aliran konvergensi yang lebih
menekankan kepada pengaruh pembawaan daripada lingkungan, dan yang sebaliknya.
(Purwanto, M. Ngalim, 1990: 15)
Perkembangan
manusia bukan hasil belaka dari pembawaannya dan lingkungannya. Manusia tidak
hanya diperkembangkan tetapi memperkembangkan dirinya sendiri. Manusia adalah mahluk
yang dapat dan sanggup memilih dan menentukan sesuatu yang mengenai dirinya
dengan bebas. Karena itu ia bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya; ia
dapat juga mengambil keputusan yang berlainan daripada apa yang pernah
diambilnya.
Proses perkembangan
manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor pembawaan yang ada pada orang itu
dan faktor lingkungannya yang mempengaruhi orang itu. Aktivitas manusia itu
sendiri dalam perkembangannya turut menentukan atau memainkan peranan juga.
Sebagai kesimpulan dapat dikatankan: Jalan
perkembangan manusia sedikit banyak ditentukan oleh pembawaan yang
turun-menurun yang oleh aktivitas dan pemilihan atau penentuan manusia sendiri
yang dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang
tertentu berkembang menjadi sifat-sifat. (Purwanto, M. Ngalim, 1990: 16)
A. HEREDITAS
Hereditas
dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan karakteristik biologis
individu dari pihak kedua orang tua ke anak atau karakteristik biologis
individu yang dibawa sejak lahir yang tidak diturunkan dari pihak kedua orang
tua.
a. Keturunan
Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat atau
ciri-ciri pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat-sifat atau
ciri-ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel-sel kelamin dari
generasi yang lain. Meskipun kita melihat suatu sifat atau ciri-ciri yang sama
antara orang tua dan anaknya, kita belum dapat mengambil kesimpulan bahwa
sifat-sifat atau ciri-ciri pada anak itu merupakan keturunan. Umpamanya: Bapak
malas dan anaknya juga malas, ini belum berarti bahwa kemalasan anak itu adalah
keturunan. Mungkin sifat malas pada anak itu disebabkan karena dengan tiada
sadar anak itu “meniru” dari orang tuanya, jadi mungkin adalah pengaruh
lingkungan.
Memang benar bahwa
anak-anak kembar yang berasal dari satu telur menunjukkan persamaan-persamaan
yang banyak sekali, baik mengenai sifat-sifat kejasmanian maupun mengenai
kerohaniannya, jadi merupakan sifat-sifat yang menurun. Tapi dari penyelidikan,
ternyata jika anak kembar yang berasal dari satu telur masing-masing dididik
dalam lingkungan yang berlain-lainan akan terlihat pula perbedaannya. Nyatalah
di sini bahwa lingkungan berpengaruh besar pula, sehingga sulit penentuan bahwa
suatu sifat itu keturunan atau bukan.
Sifat ataupun ciri-ciri
jasmaniah yang tertentu yang diperoleh karena keturunan, seperti seorang anak
yang berambut pirang atau ikal, bermata lebar atau sipit, berbada tinggi atau
pendek, periang, lincah atau pendiam.
Sifat-sifat
kejiwaan lebih sulit ditentukan, apakah diperoleh dari keturunan atau bukan,
hal ini dikarenakan sifat-sifat kejiwaan lebih mudah berubah atau terpengaruh
oleh keadaan-keadaan lingkungan selama perkembangannya.
Banyak para ahli
yang berusa menyelidiki sifat-sifat kejiwaan manusia yang berkenaan dengan
keturunan, tetapi sampai sekarang penyelidikan itu masih belum mendapatkan
hasil yang memuaskan. Hal ini dikarenakan faktor-faktor berikut:
1. Pada manusia
tidak dapat dilakukan persilangan (kruising) menurut rencana tertentu umpamanya
persilangan antara dua ras yang sangat berlainan asalnya.
2. Masa
perkembangan manusia begitu lama, sehingga mengakibatkan sifat-sifat yang ada
terjadi karena keturunan dapat tersembunyi dengan lamanya, sebelum sifat-sifat
itu muncul pada individu.
3. Adanya jumlah
anak manusia yang relatif.
b. Pembawaan
Pembawaan ialah seluruh kemungkinan-kemungkinan atau kesanggupan-kesanggupan (potensi) yang terdapat pada seorang individu dan yang selama masa perkembangannya benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan). Misalnya: sejak dilahirkan anak mempunyai kesanggupan untuk dapat berjalan, potensi berkata-kata, potensi untuk belajar ilmu pasti, pembawaan untuk bahasa, untuk menggambar, intelegensi yang baik dan lain-lain.
Potensi-potensi yang bermacam-macam itu tentu saja
tidak dapat direalisasikan atau dapat dinyatakan begitu saja, malainkan harus
mengalami perkembangan serta membutuhkan latihan-latihan. Potensi dapat
diketahui dengan memperhatikan prestasi-prestasi (actual ability), bentuk
wataknya dan tingkah laku seorang individu.
Semua yang dibawa oleh si anak sejak dilahirkan
dan diterima karena kelahirannnya adalah pembawaan. Tetapi pembawaan itu
tidaklah semuanya diperoleh karena keturunan. Sebaliknya, semua yang diperoleh
karena keutunan adalah dapat dikatakan pembawaan (pembawaan keturunan. (Purwanto,
M. Ngalim, 1990: 24)
Beberapa macam
pembawaan:
1. Pembawaan
jenis
Tiap-tiap manusia biasa di waktu lahirnya telah
memiliki pembawaan jenis, yaitu jenis manusia. Bentuk badannya, anggota-anggota
tubuhnya, intelegensinya, inggatannya dan sebagainya semua itu menunjukkan
ciri-ciri yang khas dan berbeda dengan jenis-jenis mahluk lain.
2. Pembawaan
ras
Dalam jenis manusia pada umumnya masih terdapat
lagi bermacam-macam perbedaan yang termasuk pembawaan keturunan, yaitu
pembawaan keturunan mengenai ras. Seperti ras Indo Jerman, ras Mongolia, ras
Negro dan lain-lain. Masing-masing ras itu dapat terlihat perbedaannya satu
sama lain.
3. Pembawaan
jenis kelamin
Setiap manusia yang normal sejak lahir telah
membawa pembawaan jenis kelamin masing-masing: laki-laki atau perempuan. Pada
kedua jenis kelamin itu terdapat pula perbedaan sikap dan sifatnya terhadap
dunia luar.
4. Pembawaan
perseorangan
Tiap-tiap orang sendiri-sendiri (individu)
memiliki pembawaan yang bersifat individual (pembawaan perseorangan) yang
tipikal. Tiap-tiap individu meskipun bersamaan ras atau jenis kelaminnya,
masing-masing mempybai pembawaan watak, intelegnsi, sifat-sifat dan sebagainya
yang berbeda-beda.
Pembawaan ras, pembawaan jenis, dan pembawaan
kelamin sedikit sekali dipengaruhi oleh lingkungan, akan tetapi pembawaan
perorangan dalam pertumbuhannya lebih ditentukan oleh lingkungan, antara lain
ialah:
a. Konstitusi
tubuh: termasuk dalamnya: motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air
muka, gerakan bicara.
b. Cara bekerja
alat-alat indera: ada orang yang lebih menyukai beberapa jenis stimulus
tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimiliki oleh ayah atau ibunya.
c. Sifat-sifat
ingatan dan kesanggupan belajar.
d. Tipe-tipe
perhatian, intelegensi kosien (IQ) serta tipe-tipe intelegensi.
e. Cara-cara
berlangsungnya emosi-emosi yang khas: cepat atau lambatnya bereaksi
terhadap sesuatu: dengan keras atau tenang; cara timbulnya perasaan atau
pikiran dan sebagainya (temperamen).
f. Tempo
dan ritme perkembangan.
B. LINGKUNGAN
Lingkungan ialah faktor yang datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya. Pengaruh pendidikan dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat dari kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu bersangkutan. Tidak demikian halnya dengan pendidikan. Pendidikan dijalankan dengan penuh kesadaran dan dengan secara sistematis untuk mengembangkan potensi-potensi ataupun bakat-bakat yang ada pada individu sesuai dengan cita-cita atau tujuan pendidikan. Dengan demikian pendidikan bersifat aktif, penuh tanggung jawab dan ingin mengarahkan perkembangan individu ke suatu tujuan tertentu.
Lingkungan secara
garis besar dapat dibedakan:
a. Lingkungan
fisik, Yaitu lingkungan yang berupa alam, misalnya keadaan tanah, keadaan
musim, dan sebagainya. Lingkungan alam yang berbeda akan memberikan pengaruh
yang berbeda pula kepada individu. Misalnya: daerah pegungungan akan memberikan
pengaruh yang lain bila dibandingkan dengan daerah pantai. Daerah yang
mempunyai musin dingin akan memberikan pengeruh yang berbeda dengan daerah yang
penuh dengan musim panas.
b. Ligkungan
sosial, yaitu merupakan lingkungan mayarakat, di mana dalam lingkungan
masyarakat ini adanya interaksi individu satu dengan individu lain. Keadaan
masyarakatpun akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan individu.
Lingkungan sosial dibedakan:
1. Lingkungan
sosial primer, yaitu lingkungan sosial di mana terdapat hubungan yang erat
antara anggota satu dengan anggota lain, anggota satu saling kenal mengenal
dengan baik dengan anggota lain. Oleh karena di antara anggota telah ada
hubungan yang erat, maka sudah tentu pengaruh dari lingkungan sosial ini akan
lebih mendalam bila dibandingkan dengan lingkungan sosial yang hubungannya
tidak erat.
2. Lingkungan
sosial sekunder, yaitu lingkungan sosial yang hubungan anggota satu dengan
anggota lain agak longgar. Pada umumnya anggota satu dengan anggota lain kurang
atau tidak saling kenal mengenal. Karena itu pengaruh lingkungan sosial
sekunder akan kurang mendalam bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan
sosial primer.
Hubungan individu dengan lingkungannya
ternyata tidak hanya berjalan sebelah, dalam arti hanya lingkungan saja yang
mempunyai pengaruh terhadap individu, Hubungan antara individu dengan
lingkungan terdapat hubungan yang saling timbal balik, yaitu lingkungan dapat
mempengaruhi individu, tetapi sebaliknya individu juga dapat mempengaruhi
lingkungan. (Walgito, Bimo, 1980: 50)
Sikap individu
terhadap lingkungan dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Individu
menolak atau menentang lingkungan
Dalam keadaan ini
lingkungan tidak sesuai dengan yang ada dalam diri individu. Dalam keadaan yang
tidak sesuai ini individu dapat memberikan bentuk atau perubahan lingkungan
seperti yang dikehendaki oleh individu yang bersangkutan. Misalnya akibat
banjir sebagian jalan terputus. Untuk mengatasi ini dibuat tanggul untuk
melawan pengaruh dari lingkungan, sehingga orang tidak menerima begitu saja
pengaruh lingkungan tetapi orang menolak atau mengatasi pengaruh lingkungan
demikian itu.
b. Individu
menerima lingkungan
Dalam hal ini
keadaan lingkungan sesuai atau sejalan dengan yang ada dalam diri manusia.
Dengan demikian individu akan menerima lingkungan itu.
c. Individu bersikap
netral
Dalam hal ini
individu tidak menerima tetapi tidak menolak. Individu dalam keadaan status quo
terhadap lingkungan.
Pertemuan
ke 3
1.B Pengertian belajar
menurut beberapa ahli :
1. Menurut james O. Whittaker
(Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar
adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau
pengalaman.
2. Winkel, belajar adalah aktivitas mental atau
psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.
3. Cronchbach
(Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar
adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai
hasil dari pengalaman.
4. Howard L.
Kingskey (Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui
praktek atau latihan.
5. Drs. Slameto
(Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.
6. (Djamarah,
Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
7. R. Gagne
(Djamarah, Syaiful Bahri, Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) hal 22.
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan,
ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku
8. Herbart
(swiss) Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan
pengalamn yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafaln
9. Robert M. Gagne dalam buku: the
conditioning of learning mengemukakan bahwa: Learning is change in human
disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not
simply ascribable to process a groeth. Belajar adalah perubahan yang terjadi
dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya
disebabkan karena proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh
faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.
10. Lester D. Crow and Alice Crow (WWW.
Google.com) Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh
kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.
11. Ngalim
Purwanto (1992) (WWW. Google.com) Belajar adalah setiap perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau
pengalaman.
I.2 CIRI-CIRI BELAJAR
Ciri-ciri belajar adalah
sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan
tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik),
maupun nilai dan sikap (afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja
melainkan menetap atau dapat disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja
melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan
lingkungan.
4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh
pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh
obat-obatan.
Berikut beberapa faktor
pendorong mengapa manusia memiliki keinginan untuk belajar:
1. Adanya dorongan rasa ingin tahu
2. Adanya keinginan untuk menguasai Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi sebagai tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya.
3. Mengutip dari istilah Abraham Maslow bahwa
segala aktivitas manusia didasari atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari
kebutuhan biologis sampai aktualisasi diri.
4. Untuk melakukan penyempurnaan dari apa yang
telah diketahuinya.
5. Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi
dengan lingkungannya.
6. Untuk meningkatkan intelektualitas dan
mengembangkan potensi diri.
7. Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
8.
Untuk mengisi waktu luang.
I.3 JENIS-JENIS BELAJAR
I.3.A Menurut Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam potensi, karakter, dan
kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipre-tipe belajar yang dilakukan
manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
1. Belajar isyarat (signal learning). Menurut
Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus
sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning
terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya
yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
2. Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini
memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang
tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu
(shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau
gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member
pertanyaan kemudian murid menjawab.
3. Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini
merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk
rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau
senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai
tujuannya.
4. Belajar asosiasi verbal (verbal Association).
Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang
berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan
yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan
bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
5. Belajar membedakan (discrimination). Tipe
belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai
kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan
dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak
versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan
sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti
kotak kardus, kubus, dsb.
6. Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan
stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk
suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya
yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami
prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika
teknik.
7. Belajar dalil (rule learning). Tipe ini
meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari
penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam
bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa
yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu
hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
8. Belajar memecahkan masalah (problem solving).
Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk
memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order
rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada
siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian
dari masalah tersebut.
Selain delapan jenis belajar, Gagne juga membuat
semacam sistematika jenis belajar. Menurutnya sistematika tersebut
mengelompokkan hasil-hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri sama dalam satu
katagori. Kelima hal tersebut adalah :
1. keterampilan intelektual : kemampuan seseorang
untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan symbol huruf, angka,
kata atau gambar.
2. informasi verbal : seseorang belajar menyatakan
atau menceritakan suatu fakta atau suatu peristiwa secara lisan atau tertulis,
termasuk dengan cara menggambar.
3. strategi kognitif : kemampuan seseorang untuk
mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat dan berfikir.
4. keterampilan motorik : seseorang belajar
melakukan gerakan secara teratur dalam urutan tertentu (organized motor act).
Ciri khasnya adalah otomatisme yaitu gerakan berlangsung secara teratur dan
berjalan dengan lancar dan luwes.
5. sikap keadaan mental yang mempengaruhi
seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam bertindak.
I.3.B Menurut Bloom
Benyamin S. Bloom (1956)
adalah ahli pendidikan yang terkenal sebagai pencetus konseptaksonomi belajar.
Taksonomi belajar adalah pengelompokkan tujuan berdasarkan domain atau kawasan
belajar. Menurut Bloom ada tiga dmain belajar yaitu :
1. Cognitive Domain (Kawasan Kognitif). Adalah
kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang
bias diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini tediri dari:
Pengetahuan (Knowledge).
Pemahaman (Comprehension).
Penerapan (Aplication)
Penguraian (Analysis).
Memadukan (Synthesis).
Penilaian (Evaluation).
2. Affective Domain
(Kawasan afektif). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti
perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya. Kawasan ini
terdiri dari:
Penerimaan (receiving/attending).
Sambutan (responding).
Penilaian (valuing).
Pengorganisasian (organization).
Karakterisasi (characterization)
3. Psychomotor Domain
(Kawasan psikomotorik). Adalah kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek
keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular
system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari:
Kesiapan (set)
Meniru (imitation)
Membiasakan (habitual)
Adaptasi (adaption)
I.3.C Penggabungan
Dari Tiga Ahli (A. De Block, Robert M. Gagne, C. Van Parreren)
1. Belajar arti
kata-kata. Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap
arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan.
2. Belajar Kognitif.
Tak dapat disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental.
Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan,
gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental.
3. Belajar Menghafal.
Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan,
sehingga nantinya dapat diproduksikan {diingat} kembali secara harfiah, sesuai
dengan materi yang asli, dan menyimpan kesan-kesan yang nantinya suatu waktu
bila diperlukan dapat diingat kembali kealam dasar.
4. Belajar Teoritis. Bentuk
belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta {pengetahuan}
dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat difahami dan digunakan
untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.
5. Belajar Konsep.
Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang
mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan
abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan
dalam golongan tertentu.
6. Belajar Kaidah.
Belajar kaidah {rule} termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual
{intellectual skill}, yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila
dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan
yang mereprensikan suatu keteraturan.
7. Belajar Berpikir.
Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan,
tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus
dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah
serta metode-metode bekerja tertentu.
Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk
pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
Adanya kesulitan
yang dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah.
Masalah itu
diperjelas dan dibatasi.
Mencari
informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan.
Mencari
hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesis-hipotesis, kemudian
hipotesis-hipotesis itu dinilai, diuji, agar dapat ditentukan untuk diterima
atau ditolak.
Penerapan
pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sabagai pengujian
kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai pada kesimpulan.
Menurut Dewey, langkah-langkah dalam pemecahan
masalah adalah sebagai berikut.
Kesadaran akan
adanya masalah.
Merumuskan
masalah.
Mencari data dan
merumuskan hipotesis-hipotesis.
Menguji
hipotesis-hipotesis itu.
Menerima
hipotesis yang benar.
1.3.D Menurut UNESCO
UNESCO telah mengeluarkan kategori jenis belajar
yang dikenal sebagai empat pilar dalam kegiatan belajar ( A. Suhaenah Suparno,
2000 ) :
1. Learning to know. Pada Learning to know ini
terkandung makna bagaimana belajar, dalam hal ini ada tiga aspek : apa yang
dipelajari, bagaimana caranya dan siapa yang belajar.
2. Learning to do. Hal ini dikaitkan dengan dunia
kerja, membantu seseorang mampu mempersiapkan diri untuk bekerja atau mencari
nafkah. Jadi dalam hal ini menekankan perkembangan ketrampilan untuk yang
berhubungan dengan dunia kerja.
3. Learning to live together. Belajar ini
ditekankan seseorang/pihak yang belajar mampu hidup bersama, dengan memahami
orang lain, sejarahnya, budayanya, dan mampu berinteraksi dengan orang lain
secara harmonis.
4. Learning to be. Belajar ini ditekankan pada
pengembangan potensi insani secara maksimal. Setiap individu didorong untuk
berkembang dan mengaktualisasikan diri. Dengan learning to be seseorang akan
mengenal jati diri, memahami kemampuan dan kelemahanya dengan
kompetensi-kompetensinya akan membangun pribadi secara utuh.
I.4 PENGERTIAN
PEMBELAJARAN
Istilah pembelajaran
berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan
pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa
kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi
segala hal yang guru lakukan di dalam kelas.
1.4.A Pengertian pembelajaran menurut kamus bahasa Indonesia :
Pembelajaran adalah proses, cara menjadikan orang atau makhluk hidup
belajar.
1.4.B Pengertian pembelajaran menurut beberapa ahli :
1. Duffy dan Roehler (1989).
Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan
pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.
2. Gagne dan Briggs (1979:3).
Mengartikan instruction atau pembelajaran ini adalah suatu sistem yang
bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian
peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan
mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
I.5 CIRI-CIRI
PEMBELAJARAN
Ciri-ciri pembelajaran sebagai berikut :
1. merupakan upaya sadar dan disengaja
2. pembelajaran harus membuat siswa belajar
3. tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum
proses dilaksanakan
4. pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu,
proses maupun hasilnya
1.6 PEMBELAJARAN,
PENGAJARAN, PEMELAJAR, DAN PEMBELAJAR
Pembelajaran adalah separangkat tindakan yang
dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan
kejadia-kejadian ekstrim yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian
intern yang berlangsung dialami siswa (Winkel,1991)
Pengajaran adalah proses, perbuatan, cara mengajar
atau mengajarkan perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar, peringatan
(tentang pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya). (Dariyanto S.S,
Kamus Bahasa Indonesia, 1997). Pengajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru
dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pengajaran juga diartikan sebagi
interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses
yang saling mempengaruhi antara guru dan siswa.
Pemelajar adalah orang
yang melakukan pengajaran.
Pembelajar adalah
orang yang melakukan pembelajaran.
Perbedaan antara pengajaran
dan pembelajaran:
|
NO
|
Pengajaran
|
Pembelajaran
|
|
1
|
Dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengajar
|
Dilaksanakan oleh mereka yang dapat membuat orang belajar
|
|
2
|
Tujuannya menyampaikan informasi kepada si belajar
|
Tujuannya agar terjadi belajar pada diri siswa
|
|
3
|
Merupakan salah satu penerapan strategi pembelajaran
|
Merupakan cara untuk mengembangkan rencana yang terorganisasi untuk
keperluan belajar.
|
|
4
|
Kegiatan belajar berlangsung bila ada guru atau pengajar
|
Kegiatan belajar dapat berlangsung dengan atau tanpa hadirnya guru
|
1.7 PRINSIP PEMBELAJARAN
MENURUT GAGNE DAN ATWI SUPARMAN
Beberapa prinsip pembelajaran dikemukakan oleh
Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck (1974), sebagai berikut :
1. Respon-respon baru (new responses)
diulang sebagai akibat dari respon yang terjadi sebelumnya.
2. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh
akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda
dilingkungan siswa.
3. Perilaku yang timbul oleh tanda-tanda
tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan
akibat yang menyenangkan.
4. Belajar yang berbentuk respon terhadap
tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas
pula.
5. Belajar menggeneralisasikan dan
membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang
berkenaan dengan pemecahan masalah.
6. Situasi mental siswa untuk menghadapi
pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa
belajar.
7. Kegiatan belajar yang dibagi menjadi
langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik menyelesaikan tiap langkah, akan
membantu siswa.
8. Kebutuhan memecah materi kompleks
menjadi kegiatan-kegiatan kecil dapat dikurangi dengan mewujudkan dalam suatu
model.
9. Keterampilan tingkat tinggi (kompleks)
terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana.
10. Belajar akan lebih cepat, efisien, dan
menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan
cara meningkatkannya.
11. Perkembangan dan kecepatan belajar
siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat.
12. Dengan persiapan, siswa dapat
mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan
menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar.
Dalam buku Condition of Learning, Gagne (1997)
mengemukakan sembilan prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan
pembelajaran, sebagai berikut:
1. Menarik perhatian (gaining
attention) : hal yang menimbulkan minat siswa dengan mengemukakan sesuatu
yang baru, aneh, kontradiksi, atau kompleks.
2. Menyampaikan tujuan pembelajaran (informing
learner of the objectives) : memberitahukan kemampuan yang harus dikuasai
siswa setelah selesai mengikuti pelajaran.
3. Mengingatkan konsep/prinsip yang telah
dipelajari (stimulating recall or prior learning) : merangsang ingatan
tentang pengetahuan yang telah dipelajari yang menjadi prasyarat untuk
mempelajari materi yang baru.
4. Menyampaikan materi pelajaran (presenting
the stimulus) : menyampaikan materi-materi pembelajaran yang telah
direncanakan.
5. Memberikan bimbingan belajar (providing
learner guidance) : memberikan pertanyaan-pertanyaan yamng membimbing
proses/alur berpikir siswa agar memiliki pemahaman yang lebih baik.
6. memperoleh kinerja/penampilan siswa (eliciting
performance) ; siswa diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari
atau penguasaannya terhadap materi.
7. memberikan balikan (providing feedback) : memberitahu
seberapa jauh ketepatan performance siswa.
8. Menilai hasil belajar (assessing performance)
:memberiytahukan tes/tugas untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai
tujuan pembelajaran.
9. Memperkuat retensi dan transfer belajar
(enhancing retention and transfer): merangsang kamampuan
mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan rangkuman, mengadakan review
atau mempraktekkan apa yang telah dipelajari.
FAKTOR YANG MEPENGARUHI BELAJAR
Secara umum factor-faktor yag
mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu factor
internal dan factor eksternal . kedua factor tersebut saling memengaruhi dalam
proses individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar.
A, factor internal
Factor internal adalah factor-faktor yang berasal dari
dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Factor-faktor
internal ini meliputi factor fisiologis dan factor psikologiss.
1.
Factor
fisiologis
Factor-faktor
fisiologis adalah factor-factor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Factor-factor ini dibedakan menjadi dua macam.
Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus
jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang . kondisi
fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan
belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan
menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan
tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha untuk
menjaga kesehatan jasmani.
Cara untuk menjaga kesehatan jasmani antara lain adalah :
a. menjaga pola makan yang sehat dengan
memerhatikan nutrisi yang masuk kedalam tubuh, karena kekurangan gizi
atau nutrisi akan mengakibatkan tubuh cepat lelah, lesu , dan mengantuk,
sehingga tidak ada gairah untuk belajar,
b. rajin berolah raga agar tubuh selalu bugar
dan sehat;
c.
istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan
fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi
fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca
indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar
dengan baik pula . dalam proses belajar , merupakan pintu masuk bagi
segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia. Sehinga manusia
dapat menangkap dunia luar. Panca indra yang memiliki peran besar dalam
aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh lkarena itu, baik guru maupun
siswwa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara preventif maupun
secara yang bersifat kuratif. Dengan menyediakan sarana belajar yang memenuhi
persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodic,
mengonsumsi makanan yang bergizi , dan lain sebagainya.
2. Factor
psikologis
Factor –faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat
memengaruhi proses belajar. Beberapa factor psikologis yang utama memngaruhi
proses belajar adalah kecerdasan siswa, motifasi , minat, sikap dan bakat.
– kecerdasan /intelegensia
siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemempuan psiko-fisik dalam
mereaksikan rangsaganan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara
yang tepat. Dengan dmikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas
otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh lainnya. Namun bila dikaitkan dengan
kecerdasan, tentunya otak merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang
lain, karena fungsi otak itu sebagai organ pengendali tertinggi (executive
control) dari hamper seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan factor psikologis yang paling
penting dalam proses belajar siswa, karena itu menentukan kualitas belajar
siswa. Semakin tinggi iteligensi seorang individu, semakin besar peluang
individu tersebut meraih sukses dalam belajar. Sebaliknya, semakin rendah
tingkat intelegensi individu, semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan
belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti
guru, orang tua, dan lain sebagainya. Sebagai factor psikologis yang penting
dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang
kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka
dapat memahami tingakat kecerdasannya.
Para ahli membagi tingkatan IQ bermacam-macam, salah satunya adalah
penggolongan tingkat IQ berdasarkan tes Stanford-Biner yang telah direvisi oleh
Terman dan Merill sebagai berikut ((Fudyartanto 2002).
Distribusi
Kecerdasan IQ menurut Stanford Revision
|
Tingkat kecerdasan (IQ)
|
Klasifikasi
|
|
140 – 169
|
Amat
superior
|
|
120 – 139
|
Superior
|
|
110 – 119
|
Rata-rata
tinggi
|
|
90 – 109
|
Rata-rata
|
|
80 – 89
|
Rata-rata
rendah
|
|
70 – 79
|
Batas
lemah mental
|
|
20 — 69
|
Lemah
mental
|
Dari table tersebut, dapat diketahui ada 7
penggolongan tingkat kecerdasan manusia, yaitu:
A.
Kelompok kecerdasan amat superior (very superior) merentang antara IQ 140—IQ
169;
B. Kelompok kecerdasan superior merenytang anatara
IQ 120—IQ 139;
C. Kelompok rata-rata tinggi (high average)
menrentang anatara IQ 110—IQ 119;
D. Kelompok rata-rata (average) merentang antara IQ
90—IQ 109;
E. Kelompok rata-rata rendah (low average)
merentang antara IQ 80—IQ 89;
F. Kelompok batas lemah mental (borderline
defective) berada pada IQ 70—IQ 79;
G. Kelompok kecerdasan lemah mental (mentally
defective) berada pada IQ 20—IQ 69, yang termasuk dalam kecerdasan tingkat ini
antara lain debil, imbisil, idiot.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan individu
dapat diperoleh oleh orang tua dan guru atau pihak-pihak yang berkepentingan
melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sehingga dapat diketahui
anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang mana, amat superior, superior,
rata-rata, atau mungkin malah lemah mental. Informasi tentang taraf kecerdasan
seseorang merupakan hal yang sangat berharga untuk memprediksi kamampuan
belajar seseorang. Pemahaman terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan
membantu megarahkan dan merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.
Pertemuan
ke 4
- Motivasi
Motivasi adalah salah satu factor yang memengaruhi keefektifan kegiatan
belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan
belajar. Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam
diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku
setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh
kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku
seseorang.
Dari sudut sumbernya motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsic
dan motivasi ekstrinsik. Motaivasi intrinsic adalah semua factor yang berasal
dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu.
Seperti seorang siswa yang gemar membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh
untuk membaca, karena membaca tidak hanya menjadi aktifitas kesenangannya, tapi
bisa jadi juga telah mejadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi
intrinsic memiliki pengaruh yang efektif, karena motivasi intrinsic relaatif
lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari luar(ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi
intrinsic untuk belajar anatara lain adalah:
a. Dorongan ingin tahu dan ingin menyelisiki
dunia yang lebih luas;
b. Adanya sifat positif dan kreatif yang ada
pada manusia dan keinginan untuk maju;
c. Adanaya keinginan untuk mencapai prestasi
sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orang tua,
saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebaginya.
d. Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau
pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah factor yang dating dari luar diri individu
tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untauk belajar. Seperti pujian,
peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, danlain sebagainya. Kurangnya
respons dari lingkungansecara positif akan memengaruhi semangat belajar
seseorang menjadi lemah.
-
Minat
Namun lepas dari kepopulerannya, minat sama halnya
dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh terhadap aktivitas
belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Oleh karena
itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau pendidik lainnya perlu
membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap materi pelajaran yang akan
dihadapainya atau dipelajaranya.
Untuk membagkitkan minat belajar tersebut, banyak
cara yang bisa digunakan. Anatara lain, pertama, dengan mebuat materi yang akan
dipelajarai semenarik mingkin dan tidak membosankan, baik dari bentuk buku
materi, desai pembelajaran yang membebaskan siswa mengeksplor apa yang
dipelajari, melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif,
psikomotorik) sehingga siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang
menarik saat mengajar. Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam
hal ini, alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh
siswa sesuai dengan minatnya.
- Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat
memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang
mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan
cara yang relative tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebaginya, baik
secara positif maupun negative (Syah, 2003).
Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak
senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk
mengantisipasi munculnya sikap yang negative dalam belajar, guru sebaiknya
berusaha untuk menjadi guru yang professional dan bertanggungjawab terhadap
profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas,seorang guru akan berusaha
memberikan yang terbaik bagi siswanya; berusaha mengambangkan kepribadian
sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha
untuk menyajikan pelajaranyang diampunya dengan baik dan menarik sehingga
membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan;
meyakinkansiswa bahwa bidang studi yang dipelajara bermanfaat bagi ddiri siswa.
-
Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses
belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan sebagai
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan dating (Syah, 2003). Berkaitan dengan belajar, Slavin (1994)
mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang dimilki seorang siswa untauk
belajar. Dengan demikian, bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah
satukomponen yang diperlukan dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat
seseorang sesuai dengan bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan
mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau
potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya
masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan
latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah
menyerap informasiyang berhungan dengan bakat yang dimilkinya. Misalnya, siswa
yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang
lain selain bahasanya sendiri.
Karena belajar jug dipengaruhi oleh potensi yang
dimilki setiap individu,maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu
memerhatikan dan memahami bakat yang dimilki oleh anaknya atau peserta
didiknya, anatara lain dengan mendukung,ikut mengembangkan, dan tidak memaksa
anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
b. Factor-faktor eksogen/eksternal
Selain
karakteristik siswa atau factor-faktor endogen, factor-faktor eksternal juga
dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan
bahwa faktaor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan
nonsosial.
1)
Lingkungan social
a. Lingkungan social sekolah, seperti
ggggggguru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses
belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi
bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat
menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi
siswa untuk belajar.
b. Lingkungan social massyarakat. Kondisi
lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa.
Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat
memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika
memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang
kebetulan belum dimilkinya.
c. Lingkungan social keluarga. Lingkungan ini
sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua,
demografi keluarga (letak rumah), pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi
dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan anatara anggota keluarga,
orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan
aktivitas belajar dengan baik.
2) Lingkungan non social.
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan nonsosial adalah;
a.
Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak
dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap,
suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang dapat memengaruhi
aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak
mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
b. Factor instrumental,yaitu perangkat
belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung
sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain
sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan
sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c. Factor materi pelajaran (yang diajarkan ke
siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu
juga denganmetode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa.
Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap
aktivitas belajr siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai
metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.
TEORI-TEORI BELAJAR
A.
Teori
Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya
dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata
lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks
sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond)
menurut Thorndike.
Dari eksperimen
yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya
Law of
Effect; artinya bahwa jika sebuah respons
menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin
kuat. Sebaliknya, semakin
tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan
yang terjadi antara Stimulus- Respons.
- Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
- Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
2. Classical Conditioning
menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya :
- Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
- Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3. Operant Conditioning
menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya
terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
- Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
- Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant
adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan.
Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus,
melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
4.
Social
Learning
menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning
adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan
teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya,
Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas
stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi
antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar
belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam
belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan
penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang
pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment,
seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar
behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan
prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory
yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode
meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The
Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan
dorongan.
B.
Teori
Belajar Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor
aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan
sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori
tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan
kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre
operational; (3) concrete operational dan (4) formal
operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi
pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James
Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which
a person takes material into their mind from the environment, which may mean
changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah
“the difference made to one’s mind or concepts by the process of
assimilation”
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya
diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang
oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari
guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau
berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal
dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
- Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
- Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
- Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
- Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
- Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
C.
Teori
Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor
yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif
dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses
penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran
dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi
antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1)
motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali;
(6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.
D. Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai
“bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau
peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang
terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang
terpenting yaitu :
- Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
- Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
- Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
- Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
- Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
- Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
- Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
- Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
- Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
- Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
- Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
- Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
- Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
- Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
- Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Pertemuan
ke 5
Intelegensi dan IQ
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah
kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan
menghadapi lingkungannya secara efektif. Apa saja faktor-faktor yang
mempengaruhi inteligensi
Menurut David Wechsler, inteligensi adalah
kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan
menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan
bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir
secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara
langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang
merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah
Faktor
bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi
nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak
kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya
adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50
dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu
angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ
mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah
saling kenal
Faktor lingkungan
Walaupun
ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan
sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya
tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi
yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif
emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua
istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi
sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence
Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan
demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan
seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan
membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological
Age)
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan
dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang
seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka
akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai
dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak
mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu
akan terjadi penurunan kemampuan
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor
Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat
dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus
(anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini
kemudian direvisi pada tahun 1911 Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog
dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan
utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai
rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan
ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah
diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang
kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini
banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan
tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes
tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat. Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Bakat. Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena
kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun
demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan
bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai
hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang
diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah
memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi
skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada
skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih
tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat
kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.



Left and Right Brain
Functions
Although the cerebrum is symmetrical in structure, with two lobes
emerging from the
brain stem and matching motor and sensory areas in each, certain intellectual functions
are restricted to one hemisphere. A person’s dominant hemisphere is usually occupied
with language and logical operations, while the other hemisphere controls emotion and
artistic and spatial skills. In nearly all right-handed and many left-handed people, the left
hemisphere is dominant.
© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
brain stem and matching motor and sensory areas in each, certain intellectual functions
are restricted to one hemisphere. A person’s dominant hemisphere is usually occupied
with language and logical operations, while the other hemisphere controls emotion and
artistic and spatial skills. In nearly all right-handed and many left-handed people, the left
hemisphere is dominant.
© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
Microsoft ® Encarta ® 2006. ©
1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Fungsi Otak kanan dan kiri
Walaupun keliatannya simetris secara struktur, tapi
keduanya mempunyai fugsi yang
berbeda, bila Otak kiri bertanggung jawab terhadap proses berfikir logis,
berdasar realitas, mampu melakukan penafsiran secara
abstrak, dan simbolis, cara berfikirnya sesuai untuk
tugas tugas verbal, menulis, membaca, menempatkan detail, fakta. Sedangkan cara berfkir otak kanan lebih bersifat acak, tidak
teratus,intuitif, holistik, bersifat non verbal, kearah
perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan
(merasakan kehadiran suatu benda atau orang), pengenalan bentuk, pola, musik,
kepekaan warna, kreativitas, visualisasi. (Bobbi De Potter,1999,
37 – 38)
Kedua belahan otak penting artinya , orang yang
memanfaatkan kedua belah otak ini
cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya, Belajar dapat dengan mudah
bagi mereka karena mereka mempunyai pilihan untuk menggunakan
bagian otak yang diperlukan dalam setiap pekerjaan yang
mereka hadapi. Emosi yang positif akan mendorong kearah
kekuatan otak kearah yang lebih berhasil (Bobbi De Potter, 1999, 38)Kedua
belahan otak penting artinya , orang yang memanfaatkan kedua belah otak ini cenderung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya, Belajar dapat
dengan mudah bagi mereka karena mereka mempunyai pilihan
untuk menggunakan bagian otak yang diperlukan dalam
setiap pekerjaan yang mereka hadapi. Emosi yang positif akan mendorong kearah kekuatan
otak kearah yang lebih berhasil (Bobbi De Potter, 1999, 38)
Pertemuan
ke 6
MEMORI
Memori adalah kemampuan jiwa
untukmemasukan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali
(remembering) hal-hal yang telah lampau.
Dengan adanya kemampuan untuk mengingat, manusia mampumenyimpan dan
menimbulkan kembali apa yang telah pernah dialaminya.
Memori mempunyai tiga
fungsi/proses, yaitu: memberi kode/sandi, menyimpan dan menimbulkan
kembali. Pada proses penyimpanan,
informasi yang telah diberi kode tersebut diletakkan dalam struktur
memori. Pada proses penimbulan kembali
informasi yang tersimpan berusaha diakses kembali pada saat dibutuhkan. Proses memunculkan kembali memori (record)
yang tersimpan dalam memori permanent meliputi tiga cara, yaitu: recall,
recognition dan rekonstruksi inferensial.
Sistem memori manusia tersusun
dari tiga komponen storage (penyimpanan).
Informasi (yaitu stimulus dari lingkungan) terlebih dahulu melalui sensory storage, lalu
melawati short-term memory dan pada akhirnya berakhir dalam long term memory.
Stimuli beragam yang akan
mengaktifkan seorang pembelajar dalam memproses suatu memori dapat berupa data
atau elemen psikologi, persepsi, fisiologi, lingkungan, emosi dan sosial.
Dengan bimbingan seorang guru maka seorang pembelajar atau pelajar akan mampu
menyimpan memori yang di-encoded dengan
baik. Memori yang disimpan dalam encoding
yang baik akan lebih mudah diakses kembali dan lebih mudah digunakan untuk
membuat suatu konsep atau memecahkan suatu masalah.
Peningkatan memori dapat
dilakukan dengan berbagai cara misalnya: Mempelajari sesuatu berulang-ulang,
menyediakan waktu lebih banyak untuk rehearsing
atau mengulang encoding data
tertentu, membuat bahan/materi yang memiliki arti atau kesan spesifik/tertentu,
menggunakan mnemonic devices seperti
cerita, akronim, mengaktifkan retrieval
cues- rekreasi mental, me-recall peristiwa ketika masih segar (fresh)
kemudian menuliskan sebelum terjadi gangguan (interference), meminimalisir interference dan melakukan ujian (test)
terhadap diri sendiri tentang apa yang mungkin membuat kita lupa.
Pembentukan memori secara
biologi, merupakan hal yang sangat kompleks yang terutama diperankan oleh
sistem saraf yang berpusat di otak. Pusat dari proses mengingat di otak
terletak pada area hippocampus.
Secara sederhana, proses pembentukan memori atau proses terbentuknya ingatan
dimulai dari adanya stimuli berupa audio, visual dan taktil (sentuhan) yang
akan ditangkap oleh indra kita. Sebagian dari stimuli tersebut akan di-encoded
dan sebagian tidak. Stimuli atau data yang di-encoded akan disimpan dalam bentuk short term memory atau immediate memory atau serupa pada RAM
komputer. Selanjuitnya data akan di-encoded
untuk kedua kalinya dan kemungkinan diperkaya dengan pengalaman atau memori
yang telah ada sebelumnya atau nilai/kepercayaan yang telah ada untuk disimpan
dalam bentuk long term memory atau
setara disimpan dalam hard disc
komputer. Proses pengayaan
dengan nilai tertentu tersebut setara dengan penamaan atau notasi file pada komputer.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Memori
Faktor-faktor yang mempengaruhi memori antara lain
kondisi fisik dan usia. Kondisi yang
sangat berpengaruh dalam mengingat adalah kelelahan, kurang tidur dan
sakit. Seseorang yang dalam kondisi
lelah, kurang tidur dan sakit akan mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu. Hal ini disebabkan karena pada kondisi
seperti itu individu mengalami kemunduran kemampuan metal yang disebabkan oleh
gangguan fisik tadi. Ingatan yang paling
kuat terjadi pada masa anak-anak, yaitu pada usia 10-14 tahun. Orang yang sudah lanjut usia akan mengalami
kesulitan jika diminta untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari
ataupun dialaminya, karenanya gejala yang paling umum ditemui pada masa ini
adalah pikun.
Lupa
Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebutkan
atau memunculkan kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari. Tidak berarti apa yang sudah kita pelajari
akan hilang, hanya saja informasi tersebut terlalu lemah untuk ditimbulkan
kembali.
Perkembangan Memori
Kemampuan memori manusia berkembang sejalan dengan
pertambahan usia. Pada bayi yang baru
lahir baru dimiliki kemampuan rekognisi, sedangkan kemampuan recall baru
dicapai pada usia satu tahun. Anak-anak
yang masih kecil dan bayi memiliki kapasitas memori, tetapi masih diragukan
bahwa memori yang dibentuk dapat dipercaya atau dapat diakses kembali sebelum
berusia dua tahun. Orang dewasa lebih
bersandar pada representasi semantik, sementara anak-anak lebih bersandar pada
representasi berbasis persepsi (yaitu imagery).
Dalam hal menggunakan strategi memori seiring bertambah usia maka
strategi memori seseorang semakin meningkat.
Anak-anak yang sudah cukup besar dan orang dewasa lebih cepat mengingat
informasi dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil.
Hubungan Memori dan Belajar
Terdapat hubungan yang berat antara memori dan
belajar. Dalam proses belajar akan
melibatkan pengolahan dan penyimpanan informasi. Hasil belajar bisa diketahui melalui proses
pengungkapan kembali apa yang telah diketahui siswa. Jadi, dalam belajar dibutuhkan pemanfaatan kemampuan
memori oleh siswa guna menyerap informasi yang diterima, menyimpannya dan
memunculkannya kembali pada saat menjawab soal ulangan atau ujian.
Pertemuan
ke 7
EMOSI
Emosi adalah suatu kondisi biologi, psikologi dan
fisiologi dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi seringkali disamakan dengan perasaan, namun
keduanya dapat dibedakan. Emosi bersifat lebih intens dibanding dengan
perasaan, sehingga perubahan jasmaniah yang ditimbulkan oleh emosi lebih jelas
dibandingkan perasaan. Perasaan menunjukan suasana batin yang lebih tenang dan
tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy. Emosi sebagai suatu
peristiwa psikologis mengandung ciri- ciri sebagai berikut: Pengalaman
emosional bersifat pribadi, adanya perubahan aspek jasmaniah, emosi diekspresikan prilaku dan emosi sebagai
motif.
Fungsi
Emosi.
Emosi tidak hanya berfungsi untuk survival, atau sekedar untuk
mempertahankan hidup, Akan tetapi emosi juga berfungsi sebagai energizer atau pembangkit energy yang
memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, emosi juga merupakan
messenger atau pembawa pesan.
Jenis
dan Pengelompokan Emosi
Secara
garis besar emosi manusia dibedakan dalam dua bagian yaitu, emosi yang
menyenangkan atau emosi positif, dan emosi yang tidak menyenangkan atau emosi
negative. Emosi yang menyenangkan adalah emosi yang menimbulkan perasaan
positif pada orang yang mengalaminya, diantaranya adalah cinta, sayang,
gembira, kagum dan sebagainya. Sedang emosi yang tidak menyenangkan adalah
emosi yang menimbulkan perasaan negatif pada orang yang mengalaminya,
diantaranya adalah sedih, marah,benci, takut dan sebagainya. Manusia mempunyai
empat jenis emosi dasar yang telah dibawa sejak lahir dan akan berkembang
sesuai dengan pengaruh lingkungan yaitu emosi takut, marah, sedih dan
senang. Semakin bertambah usia seseorang
maka akan semakin bertambah jumlah/jenis emosi.
Ekspresi emosi akan ditampakan dalamperilaku. Misalnya: Emosi sedih akan diekspresikan
dalam bentuk menangis. Perkembangan
emosi ditandai dengan perkembangan ekspresi.
Jika ekspresi emosi
berkembang maka akan semakin baik.
Teori-teori Emosi
Walgito mengemukakan tga teori
emosi yaitu: Teori sentral, teori periferal dan teori kepribadian.
1. Teori
sentral ,
Menurut teori ini, gajala
kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu; jadi individu
mengalami emosi terlebih dahulu baru kemudian mengalami perubahan- perubahan
dalam kejasmanian. Teori ini dikemukakan oleh Cannon.
2. Teori Periferal
Menurut teori ini,
gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami
oleh individu, tetapi emosi yang dialami oleh individu merupakan akibat dari
gejala-gejala kejasmanian. Teori ini dikemukakan oleh William James(1842-1910)
dari amerika Serikat, yang bersamaan waktunya juga dikemukan oleh Carl Lange
yang barasal dari Denmark.
3. Teori Kepribadian
Menurut teori ini, emosi
merupakan suatu aktifitas pribadi, dimana pribadi tidak dapat dipisahkan dalam
jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah. Karena itu maka emosi
meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian masalnya apa yang dikemukakan
oleh J.Linchoten.
Memelihara Emosi yang Konstruktif
Beberapa usaha untuk memelihara emosi-emosi yang
konstruktif adalah:
1.
Bangkitkan rasa humor
2.
Periharalah selalu emosi-emosi
yang positif, jauhkanlah emosi negative.
3.
Berorientasi kepada kenyataan.
4. Kurangi dan hilangkan emosi yang negative.
Beberapa cara menekan emosi
negatif dalam kegiatan belajar mengajar adalah guru memberikan perhatian kepada
siswa. Jangan menimbulkan perasaan yang
tidak menyenangkan, mengalihkan emosi negatif siswa menjadi emosi positif.
Emosi marah (emosi negative) sebaiknya dikeluarkan jangan
ditahan dengan jalan marah yang sehat.
Beberapa cara marah yang sehat yaitu: marah pada orang yang tepat, marah
pada waktu yang tepat, marah dengan kadar yang tepat (disesuaikan) dan dengan
kesalahan yang tepat.
Pengaruh Emosi pada Belajar
Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas
belajar. Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil
belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat
belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan
menciptakan emosi positif pada diri pembelajar. Jika siswa mengalami emosi
positif, mereka dapat menggunakan neokorteks untuk tugas-tugas belajar. Untuk
menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan
fisik mencakup penataan ruang kelas dan penggunaan alat bantu belajar,
sedangkan lingkungan psikologis mencakup penggunaan music untuk meningkatkan
hasil belajar.
Kecerdasan Emosi
kecerdasan
emosi (emotional intelligence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita
sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan
kemampuan mengelola emosi dengan baik, pada diri sendiri dan dalam hubungan
dengan orang lain. Kecerdasan emosi mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda
tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik (academic intelligence),
yaitu kemampuan-kemampuan kognitif murni yang diukur dengan IQ. Meskipun IQ tinggi, tetapi bila kecerdasan emosi rendah
tidak banyak membantu. Banyak orang cerdas dalam arti terpelajar tetapi tidak
mempunyai kecerdasan emosi, ternyata bekerja menjadi bawahan orang yang IQ nya
blebih rendah, tetapi unggul dalam
kecerdasan emosi.
Kecerdasan umum semata-mata hanya dapat memprediksi
kesuksesan hidup sesorang sebanyak 20 % saja, sedangkan 80 % lainnya adalah apa
yang disebut Emotional Intelligence. Bila tidak ditunjang dengan pengolahan
emosi yang sehat, kecerdasan saja tidak akan menghasilkan seorang yang sukses
hidupnya dimasa yang akan datang .
Kecerdasan emosi jelas mempengaruhi kesuksesan hidup tetapi dalam
konteks belajar disekolah kecerdasan intelektual (intelegensi) adalah modal
utama dalam keberhasilan belajar.
Kecerdasan emosi perlu ditumbuhkan semenjak anak masih kecil melalui
naskah emosi yang sehat.
Pertemuan ke 8
BERFIKIR
Menurut Khodijah ( 2006:117 )
mengatakan bahwa berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa
peristiwa atau item. Sedangkan menurut Drever dalam Khodijah (2006:117)
berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai
dengan adanya masalah. Jadi berpikir adalah satu keatipan pribadi manusia yang
mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk
menemukan pemahaman / pengertian yang kita kehendaki.
Beberapa pendapat aliran psikologi tentang berfikir,
yaitu :
- Psikologi asosiasi, mengemukakan bahwa berfikir merupakan jalannya atau bekerjanya tenggapan – tanggapan.
- Aliran Behaviorisme, berpendapat berfikir bahwa berfikir adalah gerakan – gerakan reaksi yang dilakukakan oleh urat syaraf dan otot – otot bicara seperti halnya bila kita mengucapkan ”buah pikiran”.
- Psikologi Gestalt, berfikir merupakan keaktifan psikis yang absrak, yang prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indera kita.
Jenis Berpikir
Menurut Floyd L. Ruch, berpikir ada tiga macam yaitu:
- Berpikir deduktif adalah berpikir dari yang umum menuju yang umum.
- Berpikir induktif adalah berpikir menarik kesimpulan dari berbagai kejadian dengan observasi.
- Berpikir Evaluatif adalah berpikir kritis.
Menurut Khodijah (2006), pikiran sendiri ada dua
macam yaitu pikiran sadar dan bawah sadar. Sedang
manusia hanya memanfaatkan 12% kekuatan pikiranya, sementara 88% ada pada
kekuatan bawah sadar, yg semacam "perasaan". Diantara pikiran sadar
dan bawah sadar ada Reticular Activating System (RAS) atau filter, yang
untuk membuka, pintu otak kita mesti berada pada gelombang Alfa. Pikiran bawah
sadar (yang 88% tadi) menyimpan: Memori, Self-image, Personality & Habits
(kebiasaan).
Proses Berpikir
Menurut
Suryabrata (2004), proses atau jalannya berpikir itu pada pokonya ada tiga
langkah yaitu :
a.
Pembentukan pengertian
pengertian dibentuk melalui tiga
tingkatan, sebagai berikut :
1.
Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek
yang sejenis.
2.
Membandingkan ciri tersebut untuk
diketemukan ciri-ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu
ada dan mana yang tidak selalu ada.
3.
Mengabstrasikan.
b. Pembentukan pendapat
Membentuk
pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih.
Pendapat dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu
1.
Pendapat afirmatif atau positif adalah
pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu.
2.
Pendapat negatif adalah pendapat yang
menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang adanya sesuatu sifat pada
sesuatu hal.
3.
Pendapat modalitas atau kebarangkalian
adalah pendapat yang menerangkan keberangkalian, kemungkinan sesuatu sifat pada
sesuatu hal.
c. Penarikan kesimpulan atau pembentukan
keputusan
Keputusan
ialah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan
pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan adalah sebagai
berikut :
1.
Keputusan induktif
Adalah
keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju kesatu pendapat
yang umum.
2.
Keputusan deduktif
Keputusan
deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus, jadi berlawanan dengan
keputusan induktif.
3.
Keputusan analogis
Adalah
keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat
khusus yang telah ada.
REVIEW
Dalam melakukan proses pembelajaran dikelas maupun
membimbing anak-anak dan siswa guru harus memperhatikan segala aspek psikologi
,perkembangan ,ingatan, memori dan pola berpikir anak .Hal ini penting untuk menumbuhkan
kepercayaan dan mengembangkan potensi yang ada pada siswa atau anak agar anak
dan siswa mampu tumbuh dan perkembang sesuai dengan harapan orang tua,guru dan
masyarakat Permasalahan yang ada pada anak hendaknya penyelesaiannya melibatkan
komponen orang tua, guru , masyarakat dan konsuler.
Orang tua,guru dan masyarakat harusnya memahami bahwa
hanya kesuksesan anak itu bukan hanya mampu mendapatkan nilai yang tinggi
tetapi juga mampu mengembangan nilai spritual (kecerdasan spritual) dan
kecerdasan emosian yang terkadang kecerdasan emosian dan spiritual yang mampu
membawa kesuksesan terhadap anak dalam kehidupan di masyarakat.
Dalam belajar haruslah diperhatikan faktor yang
mempebaruhi sisiwa dalam memperoleh dan mengingat pengetahuan . Oleh sebab itu
guru haruslah memperhatikan hal tersebut dalam memlakukan pembelajaran dikelas
dengan memperhatikan hal tersebut pengetahuan yang diberikan oleh guru akan
menjadi ingatan yang setia dalam memori siswa.
terimakasih
BalasHapusartikel anda sangat membantu